Batuk Tak Kunjung Sembuh | Waspadai Masalah Paru-Paru
Batuk merupakan mekanisme pertahanan yang paling efektif untuk menghilangkan benda asing, termasuk berbagai patogen dari saluran pernafasan. Gejala ini tidak hanya terjadi pada individu yang sakit tetapi juga individu yang sehat. Batuk yang berlebihan dan terusmenerus dapat dikaitkan dengan penyakit kronis, dengan atau tanpa produksi lendir yang berlebihan.
Batuk dapat diklasifikasikan menjadi beberapa tipe batuk sesuai dengan durasi batuk maupun karakteristiknya. Berdasarkan produksi dahak, batuk dikategorikan menjadi batuk kering dan batuk produktif. Batuk kering umumnya menandakan batuk non-infeksi, sementara batuk produktif lebih banyak ditemukan pada batuk dengan infeksi. Batuk juga dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori berdasarkan durasi gejalanya menjadi akut (kurang dari 3 minggu), subakut (3 hingga 8 minggu) dan kronis (lebih dari 8 minggu).
Perkiraan prevalensi global batuk kronis adalah 2-18%. Pasien dengan batuk kronis mengalami perubahan secara fisik dan psikologis yang mengganggu kualitas hidup. Batuk kronis juga mempunyai beban ekonomi yang signifikan bagi pasien dan sistem layanan kesehatan.
Penting untuk memahami bahwa batuk akut berulang mengindikasikan adanya penyakit kronis yang mendasari, seperti asma, PPOK, tuberkulosis paru, kanker paru, dan penyakit kronis lainnya. Mengetahui penyebabnya akan membantu dokter dalam menentukan pengobatan yang tepat sehingga batuk dapat membaik.
Penyebab Batuk Tak Kunjung Sembuh
-
Upper airway cough syndrome (UACS)
UACS merupakan sebuah sindrom yang mencakup beberapa keluhan berupa postnasal drip, rhinitis, dan rhinosinusitis. Kondisi ini merupakan penyebab batuk kronik terbanyak pada populasi dewasa. Keluhan – keluhan tersebut dapat terjadi akibat alergi (rhinitis alergi) maupun infeksi (sinusitis, faringitis akut).
-
Asma
Asma merupakan salah satu penyebab batuk kronik pada populasi dewasa yang ditandai dengan adanya keluhan saluran pernapasan yang berfluktuasi dalam frekuensi dan intensitasnya, disertai dengan terbatasnya aliran udara pada saluran pernapasan. Kondisi ini berhubungan dengan adanya inflamasi eosinofilik.
-
GERD
Refluks dari gastroesofagus dapat menyebabkan batuk kronik melalui beberapa mekanisme seperti aspirasi dari isi lambung yang menyebabkan reaksi proinflamasi dan hipersekresi mukus pada saluran pernapasan.
-
Batuk Kronik akibat obat-obatan
Batuk kronik terjadi pada sekitar 15 % pasien yang meminum golongan obat ACE inhibitor (lisinopril, ramipril, dan kaptopril). Tetes mata prostanoid seperti latanapronst dapat turun dan mengiritasi pharing melalui ductus nasolacrimal dan menyebabkan batuk.
-
Tuberculosis
Tuberkulosis masih merupakan penyebab batuk kronik tersering di daerah endemik. Gejala utama tuberkulosis berupa batuk ≥ 2 minggu dan gejala tambahan lainnya dapat berupa batuk darah, nyeri dada, sesak napas, badan lemas, penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, malaise, keringat malam tanpa aktifitas fisik, atau demam subfebris lebih dari satu bulan. Pada daerah endemik pemeriksaan Gene X pert /TCM sputum wajib dilakukan jika mendapatkan gejala utama batuk baik batuk subakut, maupun kronis yang disertai salah satu gejala tambahan lainnya.
-
Batuk kronik pada Penyakit Lain
Tumor paru, cystic fibrosis, bronchitis kronik dan bronchiectasis dapat menyebabkan batuk kronis.
-
Batuk kronik yang berhubungan dengan rokok dan nikotin.
Merokok merupakan penyebab paling sering batuk kronik dan seringkali berhubungan dengan penyakit akibat rokok seperti PPOK.
Pengobatan Batuk Kronis
Mengatasi batuk yang tidak kunjung sembuh tergantung dari penyebab yang mendasarinya. Itu sebabnya, jika mengalami batuk apa pun yang tidak kunjung sembuh atau berlangsung lebih dari delapan minggu, Anda harus menemui dokter untuk pemeriksaan menyeluruh guna menentukan penyebabnya.
Mengatasi Batuk Kronis
Perubahan gaya hidup bukanlah obat untuk batuk kronis, tetapi dapat membantu mengatasi batuk.
- Hindari iritan. Jika disadari adanya pemicu batuk, cobalah untuk mengurangi paparan terhadap iritan tersebut.
- Minum banyak cairan, ini dapat membantu mengencerkan dahak dan menjaga seseorang tetap terhidrasi.
- Berhenti merokok.
- Pelega Tenggorokan. Jahe atau madu dapat membantu melegakan tenggorokan. Namun, jangan berikan madu kepada anak di bawah usia satu tahun karena dapat mengandung bakteri yang berbahaya bagi mereka.
- Menjaga kelembapan udara. Udara kering dapat mengiritasi saluran pernapasan dan membuat selaput lendir menjadi kering dan lebih rentan terhadap iritan.
Dokter Penulis
dr. Tio Dora Parhusip / Charitas Hospital Belitang
Referensi
-
Irwin, R. S., French, C. L., Chang, A. B., & Altman, K. W. (2018). Classification of cough as a symptom in adults and management algorithms: CHEST guideline and expert panel report. CHEST.
-
Korean Academy of Tuberculosis and Respiratory Diseases. (2020). The Korean cough guideline: Recommendation and summary statement. Tuberculosis and Respiratory Diseases.
-
Irwin, R. S., French, C. L., Chang, A. B., & Altman, K. W. (2013). Evaluation and treatment of chronic cough. Pulmonology Reviews.
-
Epidemiology and Clinical Patterns of Chronic Cough. International Journal of General Medicine.
-
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Modul Pelatihan Pelayanan Penyakit Paru Kronik.
Kembali